25.8 C
Bengkulu
Friday, June 21, 2024

Festival Film Pendek Moderasi Beragama 2023 Islam Dalam ke-Indonesiaan Kita

Baru di baca

harianbengkulu.com – Di Indonesia antara Islam, keindonesiaan dan kemanusiaan tidak hanya berjalan seiring, melainkan menyatu dan saling mengisi dalam membangun peradaban.

Kondisi sosio-historis Indonesia yang pluralis dan multikulturalis memberi ruang bagi tumbuh kembangnya bangsa ini untuk terus belajar toleran.

Kehidupan bermasyarakat yang mencerminkan penghargaan, pengakuan, dan penerimaan terhadap perbedaan yang ada diantara individu maupun kelompok.

Bahwa; setiap orang memiliki persamaan hak dan diberlakukan sama demi kedamaian, kenyamanan, dan kesejahteraan bersama. Bersikap toleran sebagai landasan kuat membangun masyarakat yang inklusif, harmonis, dan saling menghormati.

Nilai-nilai inilah yang tercermin di sejumlah karya film yang masuk dalam pengamatan Dewan Juri Festival Film Pendek “Moderasi Beragama” 2023.

Islam Dalam ke-Indonesiaan

Ajang apresiasi film karya pelajar dan mahasiswa ini diselenggarakan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, cq. Balai Litbang Agama Jakarta dan Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD-PBNU).

Proses penjurian akhir tersebut berlangsung di Hotel Alia Cikini, Menteng Jakarta Pusat, Jum’at – Sabtu (08 – 09/09/2023).

Tidak kurang dari 126 judul film, terdiri dari 81 film merupakan karya pelajar dan 45 judul film karya mahasiswa dari seluruh Indonesia yang telah diloloskan oleh Panitia Penyelenggara.

Panitia Penyelenggara dan Tim Juri Verifikasi selanjutnya memilih karya film yang dinilai sesuai kriteria dan ketentuan festival. Film-film tersebut selanjutnya diserahkan kepada Dewan Juri Festival Film Pendek “Moderasi Beragama” 2023 untuk dinilai.

Dewan Juri Festival Film Pendek “Moderasi Beragama” 2023 menyaksikan 41 judul film, yang terdiri dari 20 judul film kategori karya pelajar dan 21 judul kategori film karya mahasiswa.

Dewan Juri telah menetapkan Pemenang 1,2 dan 3 untuk masing-masing kategori pelajar dan mahasiswa, serta ditetapkan juga Film Favorit Pilihan Masyarakat berdasarkan akumulasi viewers, like dan interaksi di YouTube BLA Jakarta.

Pengumuman pemenang akan disampaikan melalui Press Conference yang dilaksanakan akhir bulan September 2023 mendatang.

Juri terdiri dari KH. Abdullah Syamsul Arifin, MHI, Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdatul Ulama (LD-PBNU), KH. Ahmad Ikrom (Ketua Pelaksana /LD-PBNU Bidang Moderasi Beragama dan ke-Islaman), Eddie Karsito (Sineas Indonesia), KH. Bastian Zulyeno (Dosen Budaya dan Sastra Arab Universitas Indonesia), KH. Nurul Huda Haem, dan KH. Soleh Sofyan (Pengurus Harian Lembaga Dakwah PBNU).

Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdatul Ulama (LD-PBNU), KH. Abdullah Syamsul Arifin, MHI dalam sambutannya menyampaikan, bahwa kompleksitas kehidupan di masyarakat menuntut adanya ruang gerak dakwah yang lebih fleksibel. Termasuk adanya digitalitasi sejalan dengan perkembangan teknologi informasi.

Islam Dalam ke-Indonesiaan

“Tidak sekedar mengonversi dakwah konvensional ke format digital lalu mengunggahnya ke media sosial. Jadi harus disajikan lebih menarik. Memperhatikan aspek audio visual yang dikemas secara artistik seperti karya-karya film yang dibuat adik-adik pelajar dan mahasiswa ini,” ujar KH. Abdullah Syamsul Arifin, MHI.

Salah satu Dewan Juri Festival Film Pendek “Moderasi Beragama” 2023, Eddie Karsito menyampaikan anak-anak muda sekarang lebih tertarik dengan berbagai konten kreatif di platform media sosial.

“Sudah saatnya lebih mengembangkan metode dakwah bil IT. Dakwah yang memanfaatkan teknologi. Festival ini setidaknya menambah pengalaman baru bagi para pelajar dan mahasiswa. Beradaptasi dengan perubahan zaman, serta memperkaya diri dengan ilmu komunikasi penyiaran Islam,” ujar Eddie Karsito.

Eddie Karsito menekankan pentingnya progresivitas agar tidak berhenti pada ajang festival saja. Artinya ada upaya berkeseninambungan memberi ikhtisar teknik sinematografi. Menurutnya, ada banyak cara mempelajari film. Dari yang sederhana, teoritis maupun metodologis.

Islam Dalam ke-Indonesiaan

“Harus ada next project yang lebih menarik dari sekedar festival. Penting untuk belajar film baik teori maupun praktek, kritisisme film, dan sejarah film. Sehingga melahirkan cendekiawan Islam muda yang mempuni ilmu sinematografi. Hal ini dapat menjadi peluang yang baik bagi pelaku dakwah ketika cerita-cerita film bisa diisi dengan berbagai konten keislaman,” ujarnya./*

- Advertisement -spot_img

Article lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Artikel Terbaru