Iklan

 


Child Abused akan Berdampak pada Kesehatan Mental Anak

Senin, 01 Februari 2021 | 18:00 WIB Last Updated 2021-02-01T11:00:00Z

 




Harian Bengkulu - Hallo temen- temen , sebelum kita memulai topic utama,kalian  tau engga sih apa yang dimaksud dengan kekerasan?  Nah, menurut WHO, kekerasan adalah  penggunaan kekuatan fisik dan kekuasaan, ancaman atau tindakan terhadap diri sendiri, perorangan  atau  sekelompok orang (masyarakat) yang mengakibatkan atau kemungkinan besar mengakibatkan memar atau trauma, kematian, kerugian psikologis, kelainan perkembangan, atau perampasan hak. Maka dari itu kekerasan juga dianggap tindak kejahatan.

   Salah satu contoh kasus kekerasan adalah Child Abused  atau Kekerasan terhadap anak. Child Abused adalah segala suatu  perbuatan disengaja yang dapat menimbulkan kerugian atau bahaya terhadap anak-anak dalam bentuk penyiksaan fisik, emosional, pelecehan seksual, atau kelalaian orang tua terhadap anak.


  Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) di Amerika, mereka  mendefinisikan penganiayaan anak sebagai setiap tindakan atau serangkaian tindakan wali atau kelalaian oleh orang tua atau pengasuh lainnya yang dihasilkan dapat membahayakan, atau berpotensi bahaya, atau memberikan ancaman yang berbahaya kepada anak. Biasanya anak yang mengalami kekerasan akan mengalami trauma hingga mereka dewasa, hingga mereka lebih sering menjadi pribadi yang  lebih pendiam, atau bahkan anak yang mengalami bisa memiliki gangguan mental.


 Ada banyak faktor yang melatar-belakangi terjadinya Child Abused, yaitu :


1)  Faktor Internal

·  Faktor yang berasal dalam diri anak, biasanya ini bisa terjadi akibat kondisi atau tingkah laku anak.

· Faktor dari orang tua, orang tua memiliki peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan sang anak. Biasanya kekerasan yang terjadi adalah ketika orang tua memiliki pola asuh membesarkan anaknya dengan kekerasan atau penganiayaan, keluarga yang sering bertengkar didepan anaknya, dan orang tua yang belum siap secara mental untuk memiliki anak sehingga sering melampiaskan dengan melakukan kekerasan.


2)  Faktor Eksternal

· Faktor yang berasal dari lingkungan luar, biasanya kekerasan ini bisa terjadi karena kondisi lingkungan yang buruk dan tindak kriminalitasnya tinggi.


  Salah satu contoh dari Child Abused adalah kekerasan secara seksual yang sering terjadi pada anak. Kekerasan secara seksual adalah kekerasan yang terjadi berupa pemaksaan hubungan seksual, perlakuan prakontak seksual antara anak dengan orang yang lebih dewasa (melalui kata, sentuhan, gambar visual, exhibisionism), maupun perlakuan kontak seksual secara langsung antara anak dengan orang dewasa (incest, perkosaan, eksploitasi seksual).

 

 Anak menjadi kelompok yang sangat rentan terhadap  kekerasan  seksual  karena  anak  selalu  diposisikan  sebagai  sosok  lemah  atau  yang  tidak   berdaya   dan   memiliki   ketergantungan  yang  tinggi  dengan  orang-orang  dewasa  di  sekitarnya.  Dan hal inilah   yang   membuat  anak tidak berdaya  saat  diancam untuk  tidak  memberitahukan apa yang dialaminya.


  Dan dari kasus kekerasan seksual sebelumnya, banyak pelaku dari kejahatan seksual ini bisa merupakan kerabat dekat korban maupun orang asing. Tidak  ada  satupun  karakteristik  khusus  atau tipe kepribadian yang dapat di-identifikasi dari seorang pelaku kekerasan seksual terhadap anak. Dengan kata lain, siapa pun dapat menjadi pelaku  kekerasan  seksual  terhadap  anak  atau menjadi pedofilia.


  Anak yang menjadi korban kekerasan sexual cenderung menimbulkan dampak traumatis, seperti depresi, Rape Trauma Syndrome (Sindrom Trauma perkosaan), dan Disosiasi atau pelepasan diri dari realita.


  Anak yang mengalami ini cenderung menjadi pendiam dan menyalahkan diri sendiri atas apa yang ia alami karena ia merasa bahwa dia sudah mencemarkan nama baik pribadinya sendiri dan nama baik keluarga.  Maka dari itu, remaja akan cenderung menutup dirinya dari orang lain. Dampak dari pelecehan seksual yang terjadi ini ditandai dengan adanya powerlessness,  dimana  korban  merasa  tidak  berdaya  dan  tersiksa  ketika  mengungkap  peristiwa pelecehan seksual tersebut.


  Langkah paling sederhana untuk melindungi anak dari kekerasan seksual bisa dilakukan oleh individu  dan  keluarga.  Orangtua  memegang peranan penting dalam menjaga anak-anak dari ancaman  kekerasan  seksual. Orangtua  harus benar-benar  peka  jika  melihat kondisi anak  yang  tak biasa dari kebiasaannya.  Namun,  tak  semua  korban  kekerasan  seksual  akan menunjukkan  tanda-tanda yang mudah dikenali. Maka dari itu, orang tua harus memberikan rasa aman untuk anaknya karena biasanya anak merasa dekat dengan orang tuanya.

 

 Orang tua juga bisa memberikan dukungan social dan emosional kepada anak yang mereka sayangi, orang tua juga bisa melekatkan ikatan emosional kepada anak dan membuat anak lebih jujur kepada mereka, dan orang tua juga bisa meningkatkan pola komunikasi yang efesien dan terbuka.


   Adapun upaya lainnya agar anak tidak menjadi salah satu korban dari kekerasan seksual adalah dengan cara mengedukasi anak supaya lebih berhati-hati dengan orang asing, tidak menerima ajakan dari orang asing, dan tidak memperbolehkan orang asing menyentuh atau melihat area tubuhnya yang dilarang. Serta orang tua juga harus mengingatkan anak untuk selalu bersikap waspada terlebih kepada orang yang  tidak dikenalnya.


   Selain upaya dari faktor pada sang anak, perlu  juga adanya upaya dari pemerintah atau masyarakat untuk menghindari kekerasan seksual pada anak. Upaya yang dapat dilakukan adalah perlindungan  terhadap  anak  harus  diberikan  secara  utuh,  menyeluruh  dan  komprehensif,  tidak  memihak  kepada  suatu  golongan  atau  kelompok apapun.


 Adapun peranan masyarakat yang dapat membantu memulihkan dampak dari kekerasan pada anak yaitu dengan cara  Masyarakat diharapkan ikut mengayomi   dan   melindungi  korban   dengan   tidak   mengucilkan   korban,  tidak   memberi   penilaian   buruk   kepada  korban.   Perlakuan   semacam  ini  juga  dirasa  sebagai  salah  satu  perwujudan    perlindungan  kepada    korban,    karena  dengan  sikap  masyarakat  yang  baik,  korban  tidak  merasa  minder  dan  takut  dalam  menjalani kehidupan bermasyarakat. 


Nama : Deffa Putri Anrianta

Mahasswa Semester 1 Fakultas Psikologi 

Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka


 


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Child Abused akan Berdampak pada Kesehatan Mental Anak

Trending Now

Iklan